headlines

    1

SATRADIO ADS

Slider

  • Saling Jegal dan Pilih-Pilih

    Posted by Adi Yulianto

    Sudah lama tak berkunjung ke blog ini, sekalinya berkunjung ane disentil diputing gan sama admin nya, karena sudah lama tak menelurkan satu posting p...

    Read More

  • Standar Motor

    Posted by satriyo nugroho

    Mudah-mudahan anda punya istilah yang sama dengan yang berlaku dikota saya saat ini mengenai "standar motor" nama salah satu bagian dari sepeda mot...

    Read More

  • SKETSA SANG PENULIS

    Posted by satriyo nugroho

    TERIMAKASIH KEPADA  SANG PENULIS BLOG INI (ada yang berminat merangkai kata di blog ini lagi?)

    Read More

  • semuanya mungkin di tempat dugem

    Posted by ReBorn

    pelatih kesebelasan Timnas Filipina Simon Mcmenemy tampak sumringah bisa memeluk tubuh seksi model dan bintang sinetron Rahma Azhari. siapa sih...

    Read More

  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Udah Nonton Belum ?

Hot News

Technology

Life & style

Games

KOMEDI

My Picture's

» » Johnny English Strikes Again (2018)
satriyo nugroho


Film ini merupakan film ketiga dari Johnny English, franchise yang jika dijelaskan secara sederhana merupakan anak yang lahir dari perkawinan antara James Bond dan Mister Bean (marilah kita tak membahas bagaimana "cara" perkawinan itu berlangsung seandainya terjadi secara literal—anda takkan kuat). Ini bukan kebetulan belaka, sebab Johnny English juga dimainkan oleh Rowan Atkinson, sang pemeran Mister Bean. Oleh karena itu, tentu saja leluconnya berasal dari tingkah polah si Johnny yang payak dan tak kompeten dalam menjalankan tugasnya sebagai mata-mata pemerintah Inggris. Sama seperti judulnya, kali ini ia beraksi kembali. 

Kebolehan Atkinson dalam menyajikan komedi fisik dengan gestur dan ekspresinya yang absurd jarang sekali tak membuat senyum tersungging di bibir cantik saya. Salah satunya, saat ia harus menyamar sebagai seorang pramusaji di restoran Prancis yang tentu saja membuatnya harus berdialog kumur-kumur dengan aksen Prancis. Ada pula adegan saat Johnny English dengan sembarangan mendekati sebuah helikopter yang siap lepas landas, tapi untungnya sembari memakai baju zirah sehingga kepalanya selamat dari putaran baling-baling helikopter. Kita tak perlu tahu konteksnya; yang jelas, ini lucu untuk dilihat. 

Tapi yaa cuma itu. Kebanyakan leluconnya sangat gampangan, seolah ditujukan buat anak-anak. Dan huru-hara yang ditimbulkan oleh ketidakkompetenan Johnny English juga sangat predictable. Saat ia bilang bahwa mobilnya tak perlu diisi bensin, apakah mobilnya ini bakal kehabisan bensin di saat-saat kritis? Saat ia bilang bahwa bom mini yang dipakainya cuma bakal menimbulkan suara kecil, apakah ledakan bom tersebut akan terdengar oleh semua orang, termasuk si penjahat? Okesiap. 

Nah, pertanyaan yang logis adalah: kenapa ada yang mau memanggil Johnny untuk kembali beraksi? Karena tak ada pilihan lain dong. Seorang hacker baru saja mengungkap semua nama agen rahasia Inggris yang aktif. Perdana Mentri (Emma Thompson) kewalahan sehingga mau tak mau harus memanggil satu-satunya mantan agen yang masih sehat walafiat. Dan agen tersebut tentunya adalah Johnny English yang sekarang beralih profesi mengajarkan ilmu mata-mata kepada anak-anak SD. 

Johnny kemudian dipasangkan dengan tandem lamanya, Bough (Ben Milller) yang sekarang sudah menikah dengan seorang kapten kapal selam militer. Info tadi mungkin terdengar terlalu detil bagi anda, tapi saya menuliskannya supaya bisa memberitahu anda bahwa Johnny tak percaya ada seorang kapten kapal yang berjenis kelamin wanita. Fungsi Bough bagi plot adalah untuk ngasih tau Johnny sedikit logika, yang pastinya bakal lewat di kuping kanan dan keluar di kuping kiri Johnny, termasuk saat Johnny tak percaya bahwa wanita seksi teman minumnya (Olga Kurylenko) adalah seorang agen Rusia padahal Bough sudah punya lebih dari cukup bukti. 

Saya tak ingin bilang bahwa lelucon film ini sedemikian buruk sampai membuat saya meringis. Tidak seperti itu. Leluconnya lucu, hanya saja sudah sangat usang. Lelucon harusnya terasa spontan, walau sebetulnya dibangun dengan set-up terlebih dahulu. Di film ini, saat diberikan set-up, kita langsung tahu punchline-nya bakal seperti apa. Jadi setiap kali komedi lewat, saya cuma bergumam dengan muka lempeng, "Oh yang barusan komedi ya". Meski begitu, saya yakin bahwa masih ada orang yang belum pernah mendengar lelucon soal Ikang Fawzi. Dan mereka adalah satu-satunya demografi yang sangat saya rekomendasikan menonton film ini.

Disalin dari http://www.ulasanpilem.com/2018/09/review-johnny-english-3.html



Postingan ini adalah contoh postingan untuk para penulis di blog ini yang ingin me-review film yang sudah rilis di bioskop dan sudah ditonton.

«
Next
Crazy Rich Asians (2018)
»
Previous
Ant-Man and the Wasp (2018)
Pages 8123456 »

No comments:

Leave a Reply